Search

Myanmar Mencemaskan 5 Pekerjanya yang Dibunuh di Malaysia

Alikanews.com – Pemerintah Myanmar mencemaskan nasib para pekerjanya di Malaysia dan setelah lima pekerjanya dibunuh di negara itu. Pembunuhan berlangsung di tengah kemelut kedua negara selepas Malaysia menggelar protes besar-besaran untuk membela minoritas Muslim Rohingya di Myanmar.

Pada hari Senin pemerintah Myanmar sudah mengeluarkan peringatan serta petunjuak keselamatan untuk para pekerjanya di Malaysia. Lima pekerja Myanmar dibunuh oleh empat pria bertopeng dengan pedang pada hari Kamis pekan lalu.

Lima pekerja Myanmar dibunuh setelah mereka meninggalkan sebuah pabrik di kawasana Serdang di pinggiran Ibu Kota Kuala Lumpur. Selain menewaskan lima orang, serangan itu juga melukai dua orang lainnya.

Polisi Malaysia menyebutkan tujuh warga Myanmar sudah ditahan tidak lama setelah serangan itu. Polisi mengklaim tidak melihat adanya “motivasi agama” dibalik pembunuhan itu.

Myanmar sejatinya telah menghentikan pengiriman pekerjanya ke Malaysia pada Desember 2016 setelah Perdana Menteri Malaysia Najib Razak protes keras perlakuan militer Myanmar pada minoritas Muslim Rohingya yang ia sebut sebagai ” genosida “. Najib ketika itu juga menyerukan intervensi asing.

Menurut data otoritas Myanmar, ada sekitar 147 ribu pekerjanya yang ada di Malaysia. Juru bicara kantor presiden Myanmar, Zaw Htay, berujar petunjuk keselamatan sudah dikeluarkan dan pekerja ilegal asal Myanmar didesak untuk menghubungi kedutaan.

Myanmar setuju bekerja sama dengan pemerintah Malaysia untuk menyelidiki serangan mematikan itu. Menurut Htay, larangan pekerja Myanmar ke Malaysia tetap berlaku.

Nyunt Win, wakil direktur jenderal di Depertemen Kependudukan, Buruh dan Imigrasi Myanmar juga mengaku cemas dengan keamanan untuk pekerja Myanmar di Malaysia. Kecemasan tersebutlah yang menjadi salah satu alasan larangan bagi pekerja Myanmar untuk pergi ke Malaysia.

”Ada sebagian alasan terkait larangan pekerja migran Myanmar yang akan ke Malaysia, termasuk juga permasalahan keamanan dan fakta bahwa mereka berusaha untuk membangkitkan permasalahan politik pada Myanmar, ” kata Nyunt Win sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (10/1/2017). Dia tidak menjelaskan lebih lanjut soal masalah politik yang ia singgung.

Written by 

Related posts